Langsung ke konten utama

#30HariKotakuBercerita Angkot Makin Alot




Angkot merupakan salah satu kendaraan umum yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Metro. Berhubung di Metro tidak ada kereta api dan bus hanya digunakan antar kota, angkot menjadi satu-satunya kendaraan umum yang paling akrab dengan kehidupan masyarakat di sini. Angkot pernah berjaya pada masanya. Sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah, semua siswa umumnya menggunakan angkot untuk menuju sekolah.
Nggak cewek, nggak cowok, rata-rata naik angkot. Baru menginjak SMA kelas 3, beberapa siswa cowok (itupun yang rata-rata dari keluarga berada), ada yang menggunakan motor sendiri.
Hanya selang tiga tahun dari adik yang cowok, perkembangan Metro pun kian deras. Di zamannya adik saat SMA, mulai banyak yang menggunakan motor sebagai sarana transportasi untuk ke sekolah. Lima tahun kemudian, saat adik yang cewek masuk SMA, hampir sebagian siswa SMA di Metro rata-rata sudah memiliki motor untuk berangkat sekolah. Ditambah lagi membanjirnya kredit motor yang promo di mana-mana. Bayangkan, hanya DP sekitar tiga ratus sampai lima ratus ribu saja sudah bisa mejeng dengan motor pilihan.

Membanjirnya angkot menjadi salah satu pemicu matinya angkot di Metro secara perlahan. Selain murahnya membeli motor dengan sistem kredit (padahal harganya bisa dua sampai tiga kali lipat jika dibandingkan membeli secara kontan), poin kedua adalah masalah efisiensi waktu. Misalnya, dulu jika saya menuju sekolah harus naik turun angkot dua kali, belum lagi lama nunggu angkot penuh, waktu yang dibutuhkan sekitar satu setengah jam menuju sekolah. Bandingkan jika siswa jaman sekarang, dengan menggunakan motor hanya menempuh sekitar setengah jam untuk menuju sekolah. Hemat satu jam, lumayan kan...


Daerah tempat saya, Metro Utara dari jaman saya sekolah memang terkenal angkotnya paling sedikit dan paling lama penumpangnya penuh. Maklum, meski paling luas diantara kecamatan Metro yang lain, tapi penduduknya paling sedikit dibandingkan kecamatan lain. Jadi, dulu kalo jam enam pagi belum dapet angkot, rasanya mau nangis, takut telat x))

Menjamurnya motor menjadi salah satu bagian dari life sekolah siswa jaman sekarang. Nggak jarang mendengar ada siswa mogok sekolah hanya karena orangtuanya tidak mampu membelikan kendaraan tersebut. Tidak memiliki motor juga menjadi salah satu alasan siswa terlambat. Bahkan, beberapa tahun lalu, ada berita di sebuah sekolah negeri ada siswa yang nekat bunuh diri dengan cara menenggak obat nyamuk hanya karena orangtuanya tidak mampu membelikan motor untuknya. Ada sebab musabab siswa tersebut ngotot minta dibelikan motor, ternyata dia ditolak cewek idamannya hanya gegara tidak memiliki motor gede. Duh..kebanyakan nonton sinetron banget sih ini... x))

Kembali kebahasan angkot. Kini, pengguna angkot hanya didominasi para pekerja pasar. Bahkan angkot di Metro Utara tempat  saya tinggal pun mati. Para sopir biasanya hanya mendapat tumpang di jam setelah subuh, yang artinya isinya para pekerja pasar dengan setumpuk dagangannya. Atau banyak juga sopir yang berprofesi ke pekerjaan lain. Contohnya saja tetangga sebelah rumah, dulu belasan tahun menjadi sopir angkot, kini alih profesi berjualan bensin depan rumah dan membuka steam motor dan mobil. Beliau pernah bercerita, penghasilannya cukup menjanjikan dibandingkan saat menarik angkot.

Matinya angkot makin menguat. Kini terminal pun menjadi lapak sementara bagi para pedagang yang tergusur karena sedang dibangunnya pasar. Sayangnya, lapak-lapak yang disediakan pemerintah di terminal ini malah jarang terisi oleh pedagang. Banyak pedagang yang tidak meneruskan jualannya dan beralih ke profesi lain:

Kedepannya, berharap terminal bisa difungsikan lagi sebagaimana mestinya. Metro kini memiliki empat bus gratis yang menampung khusus anak sekolah. Angkot-angkot yang nganggur ini kenapa tidak diberdayakan pemerintah untuk program angkot gratis bagi anak sekolah?!?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo

Sebenarnya gak antusias waktu tahu serial ini tayang. Pertama, setting cerita yang ala-ala kerajaan gitu biasanya bertele-tele. Kedua, pemain perempuannya banyak yang bilang nggak suka. Tapi semakin ke sini, makin banyak yang bilang suka drama ini dari segi cerita.

FILM Library Wars

1. The Library is free to collect materials. 2. The library is free to circulate materials 3. The Library guarantess the privacy of its patrons 4. The library can oppose improrer cencorship

REVIEW The Saem: Iceland Hydrating Soothing Gel

Sebenarnya aku udah cocok ama The Faceshop Jeju Aloe 99% yang udah aku pake selama dua bulan kemarin, tapi pas liat The Saem: Iceland Hydrating Soothing Gel kok tertarik, apalagi warna dan bentuk botolnya yang biru unyu. Meski harganya mahal dikit dibandingkan aloe vera, akhirnya nyobain gel jenis ini x)) #LemahKaloLiatSegalaSesuatuYangBiru